Upacara Adat Mandi Belimau Tradisi Sucikan Diri Sambut Datangnya Ramadhan

BANGKA,BABEL REVIEW – Kalimat doa terucap dari bibir pemuka agama. Di depannya, terdapat dua kendi besar berisi air yang diambil dari sumur tua di desa setempat. Kendi berbahan tanah liat itu bernuansa sakral bertuliskan kalimat arab dan kaligrafi Sambil terus Mengucap doa, tangannya memasukan jeruk limau, daun pandan, serai dan bahan-bahan lain ke dalam kendi.

Setelah ritual doa, air dibagikan kepada pejabat pemerintah, tokoh daerah dan masyarakat umum. Itulah gambaran inti upacara adat Mandi Belimau yang dilaksanakan setiap tahun jelang bulan Ramadhan di area makam Depati Bahrin, Desa Kimak, Merawang, Kabupaten Bangka, Minggu (13/ 05/2018).

Menurut asal usul Budaya Melayu, tradisi ini merupakan ritual turun-temurun masyarakat Desa Jade Bahrin dan Desa Kimak yang diperkenalkan pertama kali oleh Depati Bahrin, seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang kini dinyatakan sebagai pahlawan Bangka. Awalnya Mandi Belimau dilaksanakan di tepi Sungai Limbung, Desa Jade Bahrin, namun beberapa tahun terakhir upacara adat Mandi Belimau terpusat di area makam Depati Bahrin.

Dalam perkembangannya, tradisi ini menggandeng sejumlah kegiatan lain seperti Tradisi Sepintu Sedulang (nganggung), napak tilas dan ziarah kubur. Seperti tahun ini, sebelum ritual Mandi Belimau, dilaksanakan kegiatan napak tilas perjalanan Depati Bahrin dan Depati Amir yang diikuti 120 peserta terdiri dari 25 tim putera dan puteri. Peserta yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, pramuka dan kelompok pemuda ini harus menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer dari jalan utama Desa Kimak menyusuri perkebunan sawit sampai area makam Depati Bahrin.

Selanjutnya ziarah kubur dan tabur bunga makam Depati Bahrin. H. Ilyasak selaku pemuka agama setempat yang memimpin upacara adat Mandi Belimau mengatakan, ada beberapa tujuan dilaksanakannya Mandi Belimau, yaitu sebagai penyucian diri untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan, penghormatan kepada leluhur dan menjadi moment silaturahmi masyarakat desa dengan pejabat, tokoh daerah, pengusaha dan ulama.

Warna yang Bermakna Jalannya upacara adat diawali dengan penyerahan tujuh tongkat dari masing-masing perwakilan tim napak tilas kepada tujuh pimpinan upacara yang mengenakan jubah dan ikat kepala dengan warna berbeda-beda. Masing-masing warna dipertahankan dalam tradisi ini karena memiliki nilai dan makna tertentu untuk menjaga kesakralan upacara. Setelah menerima tongkat, ketujuh pimpinan upacara adat lalu berdiri di belakang H. Ilyasak.

Tak lama H. Ilyasak mengucapkan doadoa di depan kendi yang berisi air, lalu mencampurnya dengan bahanbahan ramuan. Kepala Dinas Pariwisata Bangka Belitung Rivai mendapat giliran pertama Mandi Belimau. H. Ilyasak menuntun Rivai untuk memanjatkan doa sebelum membasuh tangan, kaki dan kepala dengan air tersebut. Setelah itu giliran Plt Bupati Bangka Rustamsyah melakukan ritual Mandi Belimau diikuti dengan sejumlah pejabat dan tamu undangan lain.

Di sela-sela kegiatan Rivai mengatakan, mandi belimau sudah menjadi bagian agenda budaya di Kabupaten Bangka dan Provinsi Babel. Untuk itu, kedepannya perlu dikemas secara menarik, agar tidak hanya menjadi agenda tahunan budaya tetapi juga bisa berdampak pada sektor pariwisata. “Kegiatan Mandi Belimau sudah dilaksanakan yang ke-18, jadi sudah cukup lama bertahan.

Artinya, keinginan masyarakat perlu kita dukung karena ini bagian dari tradisi di Desa Kimak dan sekitarnya, yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan Tuhan. Sekarang bagaimana pihak pemerintah memberi dukungan, agar eksistensi tidak sebatas pada acara ini. Tetapi digandengkan dengan acara lain, sehingga menjadi rangkaian kegiatan, supaya orang secara khusus datang ke acara puncaknya pada hari ini dan bisa juga menyaksikan kegiatan lain,” jelas Rivai. Hal senada dikatakan Plt Bupati Bangka Rustamsyah, ia berharap tradisi ini terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Pada tahun depan rencananya Pemkab Bangka bersama masyarakat desa akan mengemas kegiatan Mandi Belimau lebih meriah dengan menggelar Festival Sang Depati yaitu penggabungan potensi wisata, sejarah, wisata alam (Sungai Baturusa, Hutan Boswezen), wisata budaya dan agro wisata. “Saya yakin Desa Kimak akan menjadi salah satu destinasi wisata dan akan berpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakat. Potensi ada tinggal bagaimana kita mengemasnya,” kata Rustam.

Menurut Rustam, kegiatan tradisi Mandi Belimau bertujuan untuk melestarikan, menggali dan mengapresiasi hasil karya tokoh-tokoh terdahulu. Sehingga menjadi teladan generasi muda agar mengenal, mencintai dan menghargai adat dan budaya daerah. "Dalam menghargai karya sejarah perjuangan yang diukir oleh para pejuang kita merupakan wujud kepedulian yang sangat positif, seperti jejak perjuangan Depati Amir dan Depati Bahrin.

Bahkan salah satu upaya nyata adalah mengajukan Depati Amir sebagai pahlawan nasional,” katanya Ditambahkan Rustamsyah, tradisi adat Mandi Belimau ini juga berkaitan erat dengan Budaya Melayu yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan Islam yang menjadi ruh dalam kehidupan sehari-sehari masyarakat Bangka. Tahun ini Mandi Belimau dihadiri oleh keturunan Depati Bahrin dari berbagai wilayah  di Indonesia, yakni Kupang, Bali, Surabaya dan Banten.

Kepala Dinas Pariwisata Bangka Belitung Rivai yang mewakili Provinsi Bangka Belitung dalam kesempatan itu menyerahkan buku yang berisi berkas pengajuan Depati Amir sebagai pahlawan nasional kepada Muchtar Bahrin, selaku keturunan generasi empat Depati Amir yang datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. (BBR)

Penulis: 
Irwan
Sumber: 
Babelreview